Selasa, 27 Juli 2010

TRIKOMONIASIS

BAB I

PENDAHULUAN

Trikomoniasis pada saluran urogenital dapat menyebabkan vaginitis dan sistitis. Walaupun sebagian besar tanpa gejala, akan tetapi dapat menimbulkan masalah kesehatan yang tidak kurang pentingnya, misalnya perasaan dispareunia, kesukaran melakukan hubungan seksual yang dapat menimbulkan ketidakserasian dalam keluarga.(1)

Penularan umumnya melalui hubungan kelamin tetapi dapat juga melalui pakaian, handuk, atau karena berenang. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada orang dengan aktivitas seksual tinggi, tetapi dapat juga ditemukan pada bayi dan penderita setelah menopause. Trikomoniasis terdapat baik pada wanita maupun pria, namun penderita wanita lebih banyak dibandingkan pria. Pada pria dapat menyebabkan uretritis dan prostatitis yang kira-kira merupakan 15% kasus uretritis nongonore.(1,2)

Angka kejadian di Amerika Serikat sekitar 7.4 juta kasus baru setiap tahun. Angka pastinya sukar didapat karena kebanyakan kasus ini tidak dilaporkan atau tidak terdiagnosis. Secara global, WHO memperkirakan terdapat sekitar 180 juta kasus baru tiap tahunnya di seluruh dunia. Sementara angka prevalensinya bervariasi dari 5% pada klien klinik KB sampai 75% pada pekerja seks. Trikomoniasis memiliki angka infeksi gabungan yang cukup tinggi dengan penyakit menular lain, seperti dengan gonore, yang diketahui berhubungan secara signifikan dengan infeksi trikomoniasis.(3)


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi

Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan Trichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada wanita maupun pria, namun pada pria perannya sebagai penyebab penyakit masih diragukan.(4)

B. Etiologi

Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang merupakan satu-satunya spesies Trichomonas yang bersifat patogen pada manusia dan dapat dijumpai pada traktus urogenital.(4) Pertama kali ditemukan oleh Donne pada tahun 1836(1,4), dan untuk waktu yang lama sejak ditemukannya dianggap sebagai komensal.(4)

Trichomonas vaginalis merupakan flagelata berbentuk filiformis, berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti gelombang.(1) Mempunyai membran undulans yang pendek, tidak mencapai dari setengah badannya. Pada sediaan basah mudah terlihat karena gerakan yang terhentak-hentak. Membentuk koloni trofozoit pada permukaan sel epitel vagina dan uretra pada wanita; uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis pada pria.(4)

Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat hidup dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50°C akan mati dalam beberapa menit, tetapi pada suhu 0°C dapat bertahan sampai 5 hari.(1) Cepat mati bila mengering, terkena sinar matahari, dan terpapar air selama 35-40 menit.(4)

Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu Trichomonas tenax yang hidup di rongga mulut dan Pentatrichomonas hominis yang hidup dalam kolon, yang pada umumnya tidak menimbulkan penyakit.(1,4)

Gambar 1. Skematis T. vaginalis.(5)

Gambar 2. T. vaginalis.(6)

C. Patogenesis

Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada kasus yang lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan uretra parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat dalam sekret.(1)

Gambar 3. Siklus hidup T. vaginalis.(7)

D. Gejala Klinis

1. Trikomoniasis Pada Wanita

Gejala klinis trikomoniasis pada wanita tidak merupakan parameter diagnostik yang dapat dipercaya. Masa tunas sulit untuk dipastikan, tetapi diperkirakan berkisar antara 3-28 hari.(4)

Pada wanita sering tidak menunjukkan keluhan maupun gejala sama sekali. Bila ada keluhan biasanya berupa duh tubuh vaginal yang banyak dan berbau. Biasanya penderita datang dengan keluhan gatal pada daerah kemaluan dan gejala keputihan.(4) Dari data-data yang dikumpulkan oleh Wolner-Hanssen (1989) dan Rein (1989) yang terdapat pada tabel 1, ternyata hanya 50-70% penderita yang mengeluh adanya duh tubuh vaginal, sehingga pernyataan bahwa trikomoniasis pada wanita harus selalu disertai duh tubuh vaginal merupakan hal yang tidak benar.(4)

Tabel 1. Prevalensi keluhan dan gejala klinis penderita wanita dengan trikomoniasis.(4)

Keluhan dan gejala

Prevalensi (%)

Keluhan :

  1. Tidak ada
  2. Duh tubuh (discharge)

Berbau

Menimbulkan iritasi/gatal

  1. Dispareunia
  2. Disuria
  3. Perasaan tidak enak pada perut bawah

Gejala :

  1. Tidak ada
  2. Eritema vulva yang difus
  3. Duh tubuh berlebihan, kuning, hijau

berbusa

  1. Inflamasi dinding vagina
  2. Strawberry cervix

Pengamatan langsung

Pengamatan dengan kolposkop

9 – 56

50 – 75

10 – 67

23 – 82

10 – 50

30 – 50

5 – 12

˜ 15

10 – 37

5 – 42

8 – 50

20 – 75

1 – 2

˜ 45

Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronis.(1) Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous), dan berbusa.(1,4) Duh tubuh yang banyak sering menimbulkan keluhan gatal dan perih pada vulva serta kulit sekitarnya.(4) Dinding vagina dan labium tampak kemerahan dan sembab serta terasa nyeri.(1,4) Sedangkan pada vulva dan paha bagian atas kadang-kadang ditemukan abses-abses kecil dan maserasi yang disebabkan oleh fermen proteolitik dalam duh tubuh.(4) Kadang-kadang juga terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak granulasi berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance, yang menurut Fouts et al, hal ini hanya ditemukan pada 2% kasus trikomoniasis.(4) Keluhan lain yang mungkin terjadi adalah dispareunia, perdarahan pascakoitus, dan perdarahan intermenstrual.(1,4) Bila sekret banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar genitalia eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi uretritis, Bartholinitis, skenitis, dan sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus yang kronik gejalanya lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.(1,4)

Gambar 4. Tanda dan gejala trikomoniasis.(8)

Gambar 5. Duh tubuh pada trikomoniasis.(9)

Kadang-kadang reaksi radang sangat minimal sehingga duh tubuh sangat minimal pula, bahkan dapat tidak tampak sama sekali. Polakisuria dan disuria biasanya merupakan keluhan pertama pada infeksi traktus urinarius bagian bawah yang simptomatik. Dua puluh lima persen penderita mengalami infeksi pada uretra.(4)

2. Trikomoniasis Pada Pria

Seperti pada wanita spektrum klinik trikomoniasis pada pria sangat luas, mulai dari tanpa gejala sampai pada uretritis yang hebat dengan komplikasi prostatitis. Masa inkubasi biasanya tidak melebihi 10 hari.(4)

Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore, misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.(1)

E. Diagnosis

Diagnosis kurang tepat bila hanya berdasarkan gambaran klinis, karena Trichomonas vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbulkan gejala atau keluhan. Uretritis dan vaginitis dapat disebabkan bermacam-macam sebab, karena itu perlu diagnosis etiologik untuk menentukan penyebabnya.(1,4)

Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T. vaginalis pada sediaan langsung (sediaan basah) atau pada biakan duh tubuh penderita.(4)

Diagnosis pada pria menjadi lebih sulit lagi, karena infeksi ditandai oleh jumlah kuman yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan wanita. Uretritis non gonore (UNG) yang disebabkan oleh T. vaginalis tidak dapat dibedakan secara klinis dari UNG oleh penyebab yang lain.(4)

Respon terhadap pengobatan dapat menunjang diagnosis. UNG yang gagal diobati dengan rejimen yang efektif terhadap C. trachomatis dan U. urealyticum, namun respon terhadap pengobatan dengan metronidazol, menunjang diagnosis trikomoniasis.(4)

Untuk mendiagnosis trikomoniasis dapat dipakai beberapa cara, misalnya pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan hapus, dan pembiakan. Sediaan basah dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pada pembiakan dapat digunakan bermacam-macam pembenihan yang mengandung serum.(1)

F. Pemeriksaan Laboratorium

Cara pengambilan spesimen pada wanita, yaitu spesimen berupa hapusan forniks posterior dan anterior yang diambil dengan lidi kapas atau sengkelit steril. Hendaknya spekulum yang dipakai jangan memakai pelumas. Pada pria, spesimen yang diambil dengan mengerok (scraping) dinding uretra secara hari-hati dengan menggunakan sengkelit steril. Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan sebelum kencing pertama.(4)

Bila parasit tidak ditemukan, maka dilakukan pengambilan spesimen berupa sedimen dari 20 cc pertama urin pertama pagi-pagi. Spesimen tersebut, terutama yang diambil setelah masase prostat dapat menghasilkan 15% hasil positif pada kasus-kasus yang tidak terdiagnosis dengan pemeriksaan spesimen uretra. Pada spesimen tersebut dilakukan pemeriksaan :(4)

1. Sediaan Langsung (Sediaan Basah)

Lidi kapas dicelupkan ke dalam 1 cc garam fisiologis, dikocok. Satu tetes larutan tersebut diteteskan pada gelas objek, kemudian ditutup dengan kaca penutup. Spesimen pada ujung sengkelit dimasukkan pada satu tetes garam fisiologis yang telah diletakkan pada kaca objek.

Sebelum diamati sediaan dipanaskan sebentar dengan hati-hati, untuk meningkatkan pergerakan T. vaginalis. Pada pemeriksaan diperhatikan pula jumlah leukosit.

2. Sediaan Tidak Langsung

Bila pada sediaan langsung tidak ditemukan kuman penyebab, maka dilakukan biakan pada media Feinberg atau Kupferberg. Biakan diperlukan pada pemeriksaan kasus-kasus asimtomatik. Enam puluh persen spesimen yang diambil dari uretra pria dengan trikomoniasis akan menghasilkan biakan positif.

Gambar 6. T. vaginalis pada sediaan langsung.(10)

Dikemukan bahwa hasil positif pada pemeriksaan sediaan basah pada wanita berkisar antara 40-80%, sedangkan biakan berkisar antara 95%. Biakan 10-15% lebih sensitif dari sediaan basah. Berdasarkan hal tersebut biakan masih tetap merupakan pemeriksaan yang dianjurkan untuk menunjang diagnosis trikomoniasis.(4)

Tabel 2. Prevalensi hasil pemeriksaan laboratorium pada penderita trikomoniasis.(4)

Jenis pemeriksaan

Prevalensi (%)

pH > 4,5

Sniff test positif

Sediaan basah

Leukosit meningkat

Trichomonas dengan pergerakan khas

Fluorescent antibody

Pengecatan

Gram

Acridine orange

Giemsa

Pap smear

66 – 91

˜ 75

˜ 75

40 – 80

89 – 90

< 1

˜ 60

˜ 50

56 – 70

G. Diagnosis Banding

Diagnosis banding trikomoniasis adalah kandidosis vulvovaginalis, vaginosis bakterialis, infeksi gonokokus, infeksi genital nonspesifik (I.G.N.S).(1,2,11)

1. Kandidosis Vulvovaginalis

Disebabkan oleh Candida albicans. Keluhan utama adalah gatal di daerah vulva. Pada keadaan yang sangat berat dapat pula timbul panas, nyeri sesudah miksi dan dispareunia.(1) Flour albus pada kandidosis berwarna kekuningan. Tanda yang khas adalah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih kekuningan(1,11)

2. Vaginosis Bakterialis

Disebabkan oleh Gardnerella vaginalis. Wanita akan mengeluh adanya duh tubuh dari vagina yang ringan atau sedang dan berbau tidak enak (amis), yang dinyatakan oleh penderita sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan. Bau lebih menusuk setelah senggama dan mengakibatkan darah menstruasi berbau abnormal. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina, sepertiga akan menyebabkan gatal dan rasa terbakar dan seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen, dispareunia, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi.(1)

Pada pemeriksaan sangat khas, dengan adanya duh tubuh vagina yang bertambah, warna abu-abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau dan jarang berbusa. Duh tubuh melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kilauan yang difus, pH sekret vagina antara 4,5-5,5. Gejala peradangan umum tidak ada. Terdapat eritema pada vagina atau vulva atau petekie pada dinding vagina. Pada sediaan basah sekret vagina terlihat tidak ada atau sedikit leukosit, sel epitel banyak, dan adanya kokobasil sehingga batas sel tidak jelas, disebut clue cells yang patognomonik.(1)

3. Infeksi Gonokokus

Sesudah lewat masa tunas 3-5 hari, penderita mengeluh nyeri dan panas pada waktu kencing. Kemudian keluar nanah yang berwarna putih susu dari uretra dan muara uretra membengkak, merah dan ektropion. Pada wanita portio uteri merah, edema dengan sekret mukopurulen dan dapat timbul flour albus.(2,11)

4. Infeksi Genital Nonspesifik (I.G.N.S)

Kurang lebih 75% disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis. Gejala klinis pada wanita umumnya tidak menunjukkan gejala. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis dan dispareunia. Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya folikel-folikel kecil yang mudah berdarah.(1)

Pada pria biasanya gejala baru timbul setelah 1-3 minggu kontak seksual dan umumnya tidak seberat gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di uretra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Pada beberapa keadaannya tidak terlihat keluarnya duh tubuh.

H. Penatalaksanaan

Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.(1) Pengobatan trikomoniasis harus diberikan kepada penderita yang menunjukkan gejala maupun yang tidak.(4)

1. Topikal

a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 1-2% dan larutan asam laktat 4%.

b. Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.

c. Jel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal.

2. Sistemik (oral)

Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti:(1,2,4)

a. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari, selama 7 hari.

b. Nimorazol : dosis tunggal 2 gram.

c. Tinidazol : dosis tunggal 2 gram.

d. Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram.

Penderita dinyatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang, serta parasit tidak ditemukan lagi pada pemeriksaan sediaan langsung.(4)

Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:(1,11)

a. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan terjadi infeksi “pingpong”.

b. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh.

c. Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

3. Pengobatan Pada Kehamilan

Kehamilan pada trimester pertama merupakan kontra indikasi pemberian metronidazol. Sehubungan telah banyak bukti-bukti yang menunjukkan adanya kaitan antara infeksi T. vaginalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya, maka metronidazol dapat diberikan dengan dosis efektif yang paling rendah pada trimester kedua dan ketiga.(4)

4. Infeksi Pada Neonatus

Bayi dengan trikomoniasis simtomatik atau dengan kolonisasi T. vaginalis melewati umur 4 bulan, harus diobati dengan metronidazol 5 mg/kgBB/oral, 3 x sehari selama 5 hari.(4)

I. Prognosis

Umumnya baik,(2) Sembilan puluh lima persen penderita yang diobati sembuh.(11)

BAB III

KESIMPULAN

Trikomoniasis adalah infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronik dan disebabkan oleh infeksi protozoa Trichomonas vaginalis yang ditularkan melalui hubungan seksual dan dapat juga melalui pakaian, handuk, atau karena berenang. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada orang dengan aktivitas seksual yang tinggi. Trikomonisis dapat mengenai wanita maupun pria, tapi pada pria pada umumnya tanpa gejala.

Tidak semua penderita mengeluh adanya duh tubuh vaginal, sehingga pernyataan bahwa trikomoniasis pada wanita harus selalu disertai duh tubuh vaginal merupakan hal yang tidak benar. Sehingga dengan menemukan gejala klinis saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis, perlu pemeriksaan pemeriksaan laboratorium seperti sedian langsung, maupun tidak langsung dengan biakan.

Gejala klinis trikomoniasis juga serupa dengan gejala penyakit yang lain sehingga perlu diagnosis banding dengan penyakit kandidiasis vaginalis, vaginitis, infeksi gonokokus, uretritis nongonokokus, dan vaginosis bakterialis.

Pengobatan trikomoniasis dapat lokal maupun sistemik. Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol. Yang paling penting untuk mencapai keberhasilan dalam pengobatan adalah pasangan seksual juga perlu diobati, menganjurkan penderita untuk menghindari hubungan seksual selama pengobatan dan menghindari penggunaan barang bersama. Prognosis trikomoniasis pada umumnya baik bila diobati dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA

1. Daily SF. Trikomoniasis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi V. Jakarta: FKUI; 2009.1: 362-3.

2. Siregar RS. Trikomoniasis. Dalam: Siregar RS, editor. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi II. Jakarta: EGC; 2005. 1: 177.

3. Trikomoniasis. Klik Dokter Menuju Indonesia Sehat: Portal Komunikasi, Informasi, dan Edukasi; 2008. Diunduh dari URL: http://www.klikdokter.com/illness/detail/187

4. Djajakusumah TS. Trikomoniasis. Dalam: Daili SF, Makes WIB, Zubier F, Judanarso J, editor. Penyakit Menular Seksual. Edisi II. Jakarta: FKUI; 2001. 1: 63-70.

5. http://bioweb.uwlax.edu/bio203/s2009/strous_mary/basic_info.htm

6. http://venasaphenamagna.blogspot.com/2009/12/infeksi-alat-genitalia-wanita.html

7. http://www.stanford.edu/class/humbio103/ParaSites2005/Trichomoniasis/lifecycle.htm

8. http://www.miamichiropracticclub.com/images/std2.jpg

9. http://depts.washington.edu/nnptc/online_training/std_handbook/gallery/images/trichomonasDschg.JPG

10. http://www.medskul.com/gallery/data/519/Trichomonas_Vaginalis.jpg

11. Ovedoff D. Trikomoniasis. Dalam: Natadidjaja H, editor. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. Jakarta: Binarupa Aksara; 2002. 2: 792-3.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar